Teheran - Pimpinan paling tinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei menjelaskan jika perseteruan Amerika Serikat (AS) pada Iran tidak stop. Walau usainya kedudukan Presiden AS Donald Trump.
Seperti dikutip AFP, Kamis (17/12/2020), pengakuannya tampil tidak lama sesudah Presiden Hassan Rouhani menjelaskan jika Iran 'sangat senang' sebab Trump tinggalkan Gedung Putih.
Khamenei memperjelas kembali lagi tempatnya jika Iran harus memberikan dukungan dirinya untuk 'meniadakan' ancaman yang difungsikan oleh pemerintah Trump, tapi harus 'tidak menunda' bila ancaman itu bisa ditarik.
"Anda melihat apa yang dikerjakan Amerika zaman Trump dan Amerika zaman Obama pada Anda," ucapnya seperti diambil di situs resminya.
"Perseteruan tak terbatas pada Trump di Amerika dan tidak usai karena hanya ia sudah tinggalkan kedudukannya," lebih Khamenei, bicara ke keluarga jenderal tinggi Iran Qasem Soleimani, yang meninggal dalam gempuran udara AS pada Januari di negara tetangga Irak.
"Jangan yakin lawan, ini ialah saran eksplisit saya," kata Khamenei.
Kemelut di antara Teheran dan Washington naik selama saat kepresidenan Trump, khususnya sesudah 2018, saat dia tarik Washington keluar dari persetujuan nuklir penting dan mengaplikasikan kembali lagi hukuman ancaman sepihak.
Januari ini, Trump memerintah gempuran di dekat lapangan terbang Baghdad yang tewaskan komandan senior Iran Qasem Soleimani dan lakukan gempuran balasan Iran yang menarget pasukan AS di Irak.
Khamenei menyebutkan gempuran rudal pada pasukan AS selaku 'tamparan keras' dan menjelaskan 'pembunuh Soleimani' dan orang yang lain terjebak 'harus bayar kapan saja'.
Tatap muka Khamenei dengan keluarga jenderal yang terbunuh itu ialah tatap muka khalayak pertama kalinya semenjak seorang petinggi yang dekat sama kantornya berpindah untuk mendesak isu mengenai kesehatannya pekan kemarin.
Satu video yang dikeluarkan oleh kantor Khamenei memperlihatkan ia berjalan dari balik gorden ke kursinya sekalian menegur keluarga, dan Kepala Ajudan Revolusi Hossein Salami dan ketua parlemen Mohammad-Bagher Ghalibaf, antara petinggi yang lain.



0 Comments